Entri Populer

Selasa, 25 November 2014

semesta disa ..

sesak mungkin bukan lagi hal yang menyakitkan untuk disa, gadis manis berambut ikal itu memang sering merasakannya. di umurnya yang baru menginnya 17 tahun. entah berapa banyak tahun yang dia habiskan di rumah yang berbau obat itu. rumah sakit.

terkadang dipikirannya hanya satu. mati.
yaah, apalagi yang kamu harapkan dari gadis yang selalu sakit sakitan. bahkan ayah ibunya pun sudah lelah.

saat itu disa terduduk sendiri di halte dekat sekolah. entah apa yang dia tunggu. yang dia harapkan hanya tak ada seorangpun yang menyadari keberadaan nya.
tapi disa salah. ardan seorang pemuda yang cukup dewasa memperhatikannya sedari tadi lewat kaca cafe disebrang halte.
dia memperhatikan wajah disa yang manis, lembut, tenang namun kososng. disa dengan dunianya.
berkali kali bis berseliweran didepannya. tapi tatapannya hanya kosong. tak bangkit, tak bergeming.

ardan menangkap wajah manis disa lewat lensa kameranya. memotret dari berbagai angel yang dia dapat secara minim. karna jarak yang lumayan jauh dari tempatnya duduk.
ardan memperhatikan gambar yang dia dapat. menyesap kopi moccalatte nya pelan. sesekali menatap disa yang masih terdiam ditempatnya, di dunianya..

bug. "aduh. maaf ya mba.."
seseorang mengaduh tak jauh dibelakang punggungnya. seseorang yang ditabrak tersenyum manis. ardan tak mengenal senyum itu. tapi dia mengenal mata itu. mata sayu yang bersinar saat si empunya tersenyum. terang.
" itu kan cewe tadi.." gumam ardan. matanya menoleh ke halte yang ditempati perempuan tadi. kosong.

disa duduk dipojok kecil cafe. memesan ice chocolate. pilihan yang salah menurut ardan. menginggat suasana sedikit  dingin karna guyuran hujan di tanah bogor.

ardan enggan memperthatikannya lagi. tapi entah dorongan apa yang membuatnya memperhatikan gadis itu terus dan terus, sampai mata mereka beradu pandang.

disa memperhatikan sekeliling cafe yang kali ini tampak lebih menyenangkan. entahlah, dorongan apa yang membuatnya menginjakan kaki di cafe ini. bertahun - tahun disa menatap cafe ini dari sebrang halte. tapi baru kali ini ia mau menginajkan kaki disini. berharap. seperti ada harapan. entah apa.

dia memperhatikan sekelilingnya, seperti ada yang memperhatikan. disa menatap ke arah ia merasa ada seseorang menatapnya.

deg ! jantung disa berdegup kencang. entah apa ini. entah apa yang dia rasakan.

to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar